Memasang Judul yang Menjual

Perkara judul dapat menjadi perkara yang runyam. Mahasiswa yang tiba saatnya membuat skripsi, tesis, dan disertasi sering mengalami kerunyaman ini. Berhari-hari diperlukan untuk menemukan judul itu. Hal yang mengherankan adalah bahwa ia sebetulnya telah mempunyai gambaran kasar tentang sesuatu yang akan ditulisnya. Dan, mestinya ia tinggal melangkah lebih jauh dengan mencari referensi. Tetapi, rupanya ia tanpa sadar memusingkan diri berkutat dengan urusan yang “sepele”.

Kita memiliki pertimbangan tersendiri waktu akan memasang judul karya ilmiah. Pertama, ditentukan dulu sebelum karya ilmiah itu ditulis. Ini bersifat sementara. Kedua, ditentukan setelah karya ilmiah itu ditulis. Tentu saja untuk kepentingan bimbingan kita telah memiliki judul terlebih dulu. Sehingga, dengan judul itu kita telah mengantongi akses menuju dunia penjelajahan ilmiah.

Judul karya ilmiah merupakan hak prerogatif penulis. Kita tak pernah mendengar pihak lain memaksakan kepada kita untuk mengikuti judul yang telah ditentukan. Paling-paling kita disodori topik (misalnya oleh sponsor atau lembaga yang akan memberikan dana) untuk diteliti. Satu hal yang perlu dipertimbangkan sebagai pihak yang mempunyai hak prerogatif adalah bagaimana membuat judul itu “menjual” atau menarik perhatian.

Seperti halnya penjual, penulis juga berkepentingan agar karya ilmiah yang dibuatnya bernilai tinggi bagi dunia keilmuan. Pembaca di kalangan akademik akan menaruh perhatian yang besar pada judul untuk pertama kalinya. Bila judul-judul yang banyak beredar di mana-mana tidak menarik, maka akan dilewatkan. Sebaliknya, bila judul yang kita pasang itu menarik, maka orang akan mampir perhatiannya kepada judul kita tersebut. Lalu, seperti apakah judul yang menjual itu?

Pertama, hindari yang bersifat klise atau telah banyak dipakai orang. Misalnya, orang sudah tidak tertarik lagi dengan judul “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar”, atau “Hubungan antara Pelayanan Prima dengan Kepuasan Pelanggan”, dan seterusnya. Dalam dunia fotografi klise adalah hasil jepretan sang fotografer dalam bentuk benda plastik. Klise ini digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan foto yang berulang-ulang yang sama penampilannya. Sementara itu, dunia ilmiah selalu bergerak maju. Bila sudah ada penelitian tertentu, peneliti lain akan melanjutkannya dengan penelitian yang lebih baru. Kecuali, peneliti bertujuan untuk mengkonfirmasi penelitian tersebut karena timbul keraguan metodologis.

Kedua, lakukan selangkah lebih maju. Kalau sudah banyak penelitian yang berjudul “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar”, kita perlu selangkah lebih maju dengan “Perbedaan Motivasi Belajar yang Ditekankan Orangtua dan yang Dipengaruhi Teman Sebaya terhadap Prestasi Belajar”, sekadar sebagai contoh. Dengan langkah kita yang selangkah lebih maju ini, kita memelihara kelangsungan hidup dunia ilmu.

Ketiga, pasanglah judul yang mewakili gambaran penelitian secara utuh. Ini akan mencakup seluruh dimensi atau variabel yang ada pada penelitian kita. Judul yang seperti ini memudahkan peneliti lain yang membacanya untuk menentukan kebaruan penelitian kita.

Keempat, jangan terlalu panjang tetapi juga jangan terlalu pendek. Dikatakan terlalu panjang kalau di dalam judul terdapat lebih daripada tiga kata depan, seperti: dengan, di, dalam, terhadap, pada, oleh. Dikatakan terlalu pendek kalau judul itu tidak mewakili gambaran utuh dari karya ilmiah yang kita buat. Ada pihak yang mempersyaratkan judul tidak melebihi jumlah kata tertentu.

Kelima, judul yang kita pasang berimplikasi pada deskripsi problem, teori, metodologi, dan rekomendasi. Artinya, kita harus dapat merumuskan problem yang bersifat akademik dan yang bersifat praktis melalui judul itu. Kita juga perlu mencocokkan judul itu dengan teori yang ada. Jika kita tidak menemukan teorinya, maka kita akan kesulitan memberikan argumentasi kita terhadap judul kita sendiri itu. Secara metodologis, judul itu harus dapat diteliti dengan cara yang telah lazim di dunia ilmiah. Akhirnya, dengan judul itu kita dapat mengendalikan perahu pemikiran kita pada muara rekomendasi atau solusi yang mungkin ditunggu-tunggu dunia ilmiah dalam bentuk proposisi atau bahkan teori baru.

Keenam, sesuaikan judul dengan kaidah bahasa dan keserasian tata letak. Dalam Bahasa Indonesia lazimnya judul ditulis dengan huruf besar di setiap katanya, kecuali kata depan atau kata sambung. Lalu, untuk istilah yang berasal dari bahasa lain perlu dicetak miring (italic). Zaman dulu ketika belum ditemukan teknologi pengetikan dengan komputer, cetak miring diganti dengan garis bawah…heu heu.. Berarti, kalau sudah dicetak miring tidak perlu digaris-bawahi (sic!) atau dibuat dengan huruf kapital (huruf besar) semua. Untuk pertimbangan keserasian tata letak, judul berada di tengah margin kiri dan kanan dari kertas. Ukuran huruf dari judul perlu dibuat lebih besar daripada ukuran huruf isi keseluruhan karya ilmiah.*****

Posted on 27/03/2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: