Julia Perez dan Pendidikan Politik

Oleh PUSREFIL

Julia Perez dicalonkan parpol untuk menjadi Bupati Pacitan

Fenomena partai politik mencalonkan seorang artis untuk menjadi pejabat politik di pemerintah telah sering terjadi. Sebut saja Anwar Fuady, Helmy Yahya, Primus Yustisio, Ayu Azhari, Inul Daratista, Rano Karno, Dede Yusuf, dan sederet lainnya. Belakangan disebut Julia Perez yang cukup ramai mengundang pro-kontra.

Pihak yang pro memberikan alasan bahwa pencalonan tersebut untuk memberikan hak yang sama kepada setiap warga negara untuk menduduki jabatan politik. Selain itu, popularitas sang calon merupakan asset bagi partai untuk bertarung dalam pemilihan pejabat politik di berbagai tataran.

Adapun pihak yang kontra berargumentasi bahwa pencalonan tersebut telah merampas peluang para kader partai untuk berpromosi dalam karier politiknya, dan menafikan azas kualitas pencalonan.

PENDIDIKAN POLITIK
Secara prinsipil, pencalonan pejabat politik oleh partai semestinya tak terlepas dari fungsi pendidikan politik. Partai sebagai mesin politik seharusnya melakukan pendidikan politik yang sehat. Pendidikan politik bermakna sebagai aktivitas memberikan pemahaman kepada warga/konstituen tentang dasar-dasar berkehidupan politik yang berdiri dengan pondasi ideologi negara dan partai. Juga, partai memberikan pemahaman tentang mekanisme bekerjanya partai dalam bentuk proses perolehan kekuasaan. Semuanya bermuara pada output dan outcome politik dalam bentuk kebijakan dan terwujudnya visi dan misi partai yang diembannya.

Kembali pada pencalonan itu, seyogyanya partai menyadari hal ini hingga kapan pun. Maksudnya, partai di setiap zaman mesti selalu mengedepankan aspek pendidikan politik ini tanpa terpengaruh trend pragmatisme dan keuntungan jangka pendek. Memang jika partai dipengaruhi oleh pragmatisme mungkin akan mendapatkan keuntungan berupa terpilihnya calon yang diusungnya. Ini berarti ada peluang bagi partai memiliki sumber dana partai dan kemudahan partai dalam mewujudkan visi dan misi partai dibandingkan dengan tidak terpilihnya calon partai.

Tetapi hal yang krusial dan strategis adalah bahwa pencalonan seperti itu justru akan menjadi aktivitas yang kontra-produktif. Misalnya, calon yang tidak memiliki kapabilitas jabatan politik justru akan menurunkan kredibilitas partai di mata konstituen saat sang calon memenangi pemilihan. Performansinya akan jauh dari harapan warga, terutama warga pemilihnya yang pada awal pencalonan menaruh ekspektasi yang besar pada sang calon.

Cacat yang menonjol apabila partai memilih kandidat yang hanya memiliki popularitas adalah bertolak belakang dengan hakikat pendidikan politik yang mengajarkan adanya penjenjangan karier politik bagi kader. Bukankah untuk menduduki jabatan tinggi pendidikan politik menghendaki seseorang harusnya berpromosi secara berjenjang?

Jadi, pihak-pihak yang mencalonkan Julia Perez mesti berpikir ulang secara visioner. Kecuali ada catatan yang menunjukkan bahwa Julia Perez pernah memiliki prestasi yang bagus dalam kancah politik di masa lalu. Julia Perez sendiri sebagai penyanyai lagu “Belah Duren” harus membuktikan bahwa ia bukan cuma ahli membelah durian, melainkan piawai dalam menjalankan roda pemerintahan…. ^,_,^

Posted on 21/04/2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: