Janganlah Hatimu Mudah Terluka

Oleh PUSREFIL

Sebenarnya untuk apakah kita hidup di dunia ini? Jawaban atas pertanyaan ini dapat beragam. Manusia memiliki karakteristik individual yang khas, unik, sebab itu tujuan hidupnya juga unik. Ada yang ingin mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Ada yang ingin memiliki kekuasaan sebesar-besarnya. Ada yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Atau, mungkin, ada pula yang ingin mempunyai pasangan hidup yang secantik-cantiknya atau setampan-tampannya. Ada yang ingin memiliki semua yang telah disebutkan itu. Terserahlah, itu menjadi hak setiap orang sepenuhnya.

Tetapi, sebenarnya hakikat hidup ini adalah mencari kemuliaan. Kemuliaan sebagaimana fitrah manusia itu diciptakan oleh Allah Yang Maha Esa. Manusia diciptakan dan dihidupkan oleh Allah, diberi semacam paket yang melekat pada kehidupannya. Karena manusia yang percaya akan hidup di dua dimensi, dimensi fana (dunia) dan dimensi abadi (akhirat), maka manusia mesti mengelola dua kehidupan tersebut. Manajemen di dua kehidupan itu seperti apa? Itulah yang penting. Untungnya Allah berbaik hati telah memberikannya kepada kita semua ilmu menghadapi kehidupan. Kita tak perlu repot-repot memformulasikan tata perilaku untuk menghadapi kedua kehidupan itu dalam bentuk tuntunan atau pedoman yang ada di kitab suci atau ajaran utama pada setiap agama atau keyakinan. Dalam ajaran agama yang saya anut, manusia yang dapat menerapkan tuntunan itu akan selamat, baik selamat di dunia maupun di akhirat, insya Allah.

Nah, dalam kerangka seperti itu salah satu sarananya adalah berkehidupan sosial. Dengan berkehidupan sosiallah manusia dapat mencapai kemuliaan. Manusia yang hidup menyendiri akan sulit mencapai kemuliaan. Mengapa? Sebagian besar amal baik kita memerlukan orang lain. Misalnya, jika kita akan bersedekah kepada fakir miskin, maka harus ada fakir miskinnya. Tidak bisa kita bersedekah tanpa orang lain yang akan kita beri sedekah. Apa kita mau bersedekah kepada pohon? Bisa saja kita berbuat baik yang dicatat oleh Allah dengan menjaga kelestarian alam sebagai amal yang menimbulkan pahala, namun itu tidak akan dibalas dengan umpan balik yang lebih membahagiakan kita dibandingkan jika kita beramal kepada manusia lainnya. Misalnya juga, manakala kita mau mengurangi kesedihan orang lain, kita memerlukan orang yang sedih.

Berkehidupan sosial antarmanusia memerlukan perasaan-perasaan. Perasaan kita akan menentukan kualitas hubungan kita dengan orang lain. Perasaan yang gembira akan membuat orang lain ikut bergembira. Demikian pula perasaan sedih. Pada umumnya orang lebih senang melihat kegembiraan daripada kesedihan. Keceriaan kita akan membuat orang-orang mendekat kepada kita. Kita sebetulnya tidak suka melihat kesedihan. Memang dalam konteks tertentu, misalnya dalam kompetisi, kita senang melihat kesedihan orang yang kita kalahkan. Namun, sebenarnya bukan kesedihan itu yang membuat kita senang, melainkan kemenangan kita dalam berkompetisi.

Pentingnya hati tidak mudah terluka. Dalam kaitannya dengan perasaan-perasaan seperti itulah perlunya kita tidak mudah sedih, kecewa, marah, tersinggung. Perasaan sedih, kecewa, marah, tersinggung tentu tidak dapat kita hindarkan. Maksud saya adalah kita jangan mudah memiliki perasaan-perasaan tersebut. Apa perlunya? Pertama, Orang yang tidak mudah sedih dan sejenisnya, yang saya sebut “tegar” (kayaknya ini judul lagunya Rossa, ya?), dapat melewati hidup ini dengan lebih bahagia. Enak bukan bila hidup kita bahagia? Kedua, selain itu kita menjadi lebih dewasa dalam arti psikologis dan religius. Dalam arti luas hidup ini menuntut kedewasaan setiap manusia sebagai ujung dari semua perjalanan panjang kita. Ketiga, kekayaan yang banyak, kekuasaan yang luas, kekuatan yang hebat, dan kecantikan atau ketampanan fisik yang aduhai tidak banyak memberikan arti dalam hidup kita bila kita terus-menerus dilanda kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan ketersinggungan. Keempat, kebalikan dari perasaan sedih, kecewa, marah, dan tersinggung akan membantu kita dalam menambah jumlah sahabat yang kian banyak. Bukankah sahabat kita perlukan di mana pun kita berada? Kelima, orang yang tegar berpikiran jernih, sehingga mendapatkan peluang besar untuk kreatif, inovatif, produktif dan dapat diandalkan untuk menjadi teladan oleh siapa pun.

Memang banyak hal yang kalau kita masukkan ke dalam hati membuat kita sedih, kecewa, marah, dan tersinggung. Anak-anak yang rewel minta dibelikan mainan sementara Anda tidak memiliki cukup uang. Anak mertua yang rewel minta bermain-main sementara Anda sedang sibuk menyelesaikan PR untuk mendapatkan award dari blogger lain. Pacar yang terlalu bawel, melarang tidak boleh ini, tidak boleh itu. Pacar yang punya pacar lagi, selain pacarnya yang lama. Polisi tidur yang jumlahnya banyak di jalan-jalan yang Anda lalui sementara Anda terburu-buru harus cepat sampai di kampus, kantor, atau kantin (sic!). Orang yang dengan cueknya menyerobot antrian Anda di pom bensin. Akses internet yang ngadat. Bos yang cerewet. Tetangga yang banyak komplain. Genteng bocor. Mulut bocor. Ini. Itu. Dan, sejuta peristiwa yang bisa membuat kita senewen. Akankah hati kita mudah terluka? Tidak sayangkah kita pada hati kita sendiri dengan menyuruhnya bekerja keras untuk bersakit-sakit, padahal ia tidak perlu bekerja seberat itu agar hidup kita lebih indah?

CARANYA?. Lalu cara mengobati hati yang mudah luka bagaimana, mas? Umpamanya Anda bertanya seperti itu. Karena Anda bertanya, maka saya akan menjawab. Ini jawaban dari saya:

  • Biasakanlah berempati terhadap perasaan orang lain. Berempati adalah usaha untuk memahami sepenuhnya perasaan atau kondisi kejiwaan orang lain dari sudut pandang orang tersebut, bukan dari sudut pandang kita sendiri. Orang yang membuat Anda tersinggung hari ini, mungkin tidak sengaja melakukannya. Mungkin ia sedang depresi sehingga kata-katanya ketus. Mungkin juga ketika ngobrol dengannya, secara tidak sengaja Anda mengucapkan sebuah kata atau kalimat yang membuatnya meradang karena kata-kata itu mengingatkannya pada suatu pengalaman yang teramat pahit baginya.
  • Janganlah menuntut orang lain menggunakan standar-standar nilai, keyakinan, atau moralitas sesuai dengan standar-standar yang Anda pegang. Orang lain memiliki standar sendiri yang dapat berbeda dengan Anda. Orang lain juga memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda dengan Anda. Perbedaan-perbedaan itu mesti kita terima, sama seperti yang Anda inginkan agar orang lain menerima Anda walaupun Anda berbeda dengan orang lain itu. Tidak jarang meskipun orang lain memiliki standar yang sama dengan standar Anda, ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda dengan cara Anda.
  • Jadilah orang yang pandai bersyukur kepada Allah SWT. Jika demikian, maka Anda akan mampu menghargai setiap karunia Allah yang jumlahnya tidak terbatas dan melimpah. Bersyukur bahwa Anda dapat menghirup udara segar di pagi hari, memiliki uang untuk ke warnet, atau bergandengan tangan dengan sahabat saat window shopping ke pertokoan, kafe, dan ke pantai. Orang yang pandai bersyukur akan menjadi sabar dan tidak mudah digoda untuk cepat menjadi emosional. Orang yang pandai bersyukur juga akan memancarkan wajah ceria kepada dunia dan segala isinya. Kalau sudah demikian, semua makhluk di dunia juga akan tersenyum ceria menyambut Anda bagaikan raja!
  • Berpikirlah lebih positif hari ini dibandingkan kemarin. Hari ini Anda minum teh yang rasanya kurang manis dan kurang panas. Mungkin pacar Anda yang membuatkannya sedang lupa memberikan gula yang cukup pada cangkir teh Anda (wah…enaknya ya, punya pacar yang mau membikinkan teh). Dapat juga Anda cipratan air bekas hujan tadi malam sewaktu Anda berjalan menuju kantor. Pikirkanlah bahwa mungkin mobil yang menciprati Anda tadi sedang terburu-buru karena ibu sang sopir sedang koma di rumah sakit. Atau, bisa juga suatu saat Anda bermobil dan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Mungkin juga Anda hari ini membuatkan teh kepada sang pujaan hati, tetapi tidak diminum. Berpikirlah bahwa mungkin ia baru saja minum banyak di rumahnya sehingga kalau minum teh di rumah Anda ia akan menjadi kembung perutnya. Siapa yang rela punya pacar perutnya kembung?!
  • Percayalah bahwa kesabaran akan membuahkan hasil yang manis kalau tidak sekarang nanti Anda akan menikmatinya. Sebagian besar kenikmatan, kebahagiaan, kemuliaan merupakan proses. Dalam proses itu memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Tidak pernah buah durian tiba-tiba matang tanpa melalui tumbuh, berbunga, dan berbuah. ojo grusa-grusu atau jangan terburu-buru karena nafsu yang menggebu. Kehebatan bukan terletak pada kecepatan untuk mengayunkan langkah, melainkan ketepatan membidik sasaran. Ini semua memerlukan proses yang mesti ditunggu dan diusahakan serta didoakan dengan sabar.
  • Mulailah hari ini dengan melakukan perbuatan atau tugas dengan ikhlas. Ikhlas adalah perasaan untuk tidak berharap imbalan semata terhadap perbuatan kita kepada orang lain. Jika Anda kemarin-kemarin belum ikhlas dengan sepenuh hati, jangan berkecil hati. Hari ini mungkin Anda masih memiliki kesempatan untuk melakukannya dengan lebih ikhlas. Ada orang yang mengatakan, ah! Ikhlas itu hanya mudah diucapkan, tetapi sukar untuk dijalankan! Jangan mudah terprovokasi dengan perkataan demikian. Sesungguhnyalah orang yang mengatakan hal itu sedang tidak berusaha untuk berbuat ikhlas. Biarkanlah kalau orang lain berbuat demikian, asal jangan kita. Memang perlu sedikit pengorbanan untuk bersikap ikhlas atau tulus. Cara untuk berlatih, misalnya, berikanlah makan pada kucing liar di sekitar rumah Anda. Atau, pungutlah sampah di jalan di depan rumah Anda lalu buang di tong sampah Anda sendiri. Bisa juga Anda berhenti sejenak dari langkah Anda yang terburu-buru ke tempat tujuan dan mengatakan kepada satpam, “Terima kasih, bapak.” Lalu Anda boleh melangkah lagi. Ada sejuta perbuatan yang dapat kita mulai untuk melatih keikhlasan perbuatan kita.
  • Mulailah hidup Anda hari ini pada saat bangun tidur dengan niat bergembira dan praktikkan dengan tersenyum di cermin kamar Anda, seraya mengatakan “Hari ini saya harus menebarkan senyum kepada 20 orang.” Senyum adalah bahasa universal yang dimengerti seluruh umat manusia di dunia bahwa Anda orang yang ramah dan sedang menyemai kebaikan dan kerendahan hati. Senyum Anda akan menjalar dan menularkan virus akal budi kepada semua orang. Orang yang membalas senyum Anda niscaya akan melindungi Anda, merengkuh Anda ke dalam daftar orang-orang yang akan menjadi sahabatnya. Alangkah indahnya!
  • Saat Anda mengakhiri hari ini dengan beranjak ke peraduan untuk beristirah, tutuplah hari ini dengan doa bahwa Anda berterima kasih telah menikmati hari yang indah tiada taranya sambil memohon kepada Tuhan berikanlah hari esok yang lebih ceria karena Anda penebar keceriaan itu.

*****

Posted on 21/04/2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: